16 Jam Menembus Neraka Timur Tengah, Kisah Menegangkan Kapal Pertamina Gamsunoro Taklukkan Selat Hormuz

Berry Pratama
3 min
IMG 20260626 102556
A-AA+A++

Jakarta, Nusantaratoday.id — Selama 16 jam penuh, kapal Gamsunoro milik PT Pertamina International Shipping (PIS) harus bertaruh dengan waktu dan nyali. Kapal tanker raksasa ini berlayar membelah Selat Hormuz salah satu rute laut paling membara dan sensitif di dunia. Kamis (25/06/26).

​Di bawah bayang-bayang konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kian memanas, setiap mil laut yang ditempuh bukan lagi sekadar pelayaran biasa, melainkan ujian hidup dan mati bagi kesiapsiagaan, kewaspadaan tinggi, dan ketahanan mental para awak kapal.

​Jalur menegangkan ini dimulai pada Rabu (24/6) pukul 01.06 waktu Dubai (04.06 WIB). Setelah sempat terjebak dan tertahan di kawasan Teluk Arab sejak awal Maret 2026 akibat eskalasi keamanan yang tak menentu, Gamsunoro akhirnya mendapatkan lampu hijau untuk bergerak.

​Namun, keputusan menerjang jalur merah ini tidak diambil dalam semalam. Selama satu bulan terakhir, PIS berkolaborasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri dan KBRI Teheran demi memetakan navigasi aman. Puluhan skenario darurat dibongkar-pasang, dan setiap potensi risiko dikuliti habis sebelum komando keberangkatan diteriakkan.

Baca Juga :  BI Rate Naik Jadi 5,5 Persen, Intip Dampak Positif Dan Negatifnya Bagi Masyarakat

​“Kami berterima kasih sedalam-dalamnya kepada Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar RI di Teheran, Iran, atas dukungan tak terbatas selama masa-masa krusial ini,” ungkap Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, dalam keterangan resminya, Kamis (25/6).

​Begitu jangkar diangkat dan Gamsunoro meninggalkan Teluk Arab, ketegangan justru mencapai puncaknya. Di darat, tim Crisis Center PIS bersiaga penuh 24 jam tanpa jeda. Mata mereka tak lepas dari layar monitor, memantau setiap jengkel pergerakan kapal dan dinamika bahaya di sepanjang jalur pelayaran.

​Bagi PIS, menaklukkan Selat Hormuz bukan sekadar urusan logistik atau mengantar kargo. Selat sempit ini adalah urat nadi energi dunia yang kini menjelma menjadi zona merah internasional. Meloloskan kapal dari sana menuntut akurasi mutlak: dari pemilihan momentum, rute taktis, hingga kesiapan mental kru.

​“Pemilihan waktu dan rute pelayaran telah melalui proses risk assessment yang sangat ketat. Ada puluhan parameter berlapis yang wajib dipenuhi, mulai dari jaminan asuransi, kelaikan teknis, protokol keamanan, hingga kesiapan psikologis kru,” tegas Vega.

Baca Juga :  Lansia Tewas di 13 Ulu, Polsek SU II Dan Polrestabes Palembang Amankan Pelaku

​Enam belas jam yang mencekam itu akhirnya berbuah kelegaaan. Pada Rabu malam sekitar pukul 20.00 WIB, Gamsunoro resmi keluar dari titik kritis Selat Hormuz dan memasuki perairan aman. Pekik lega membuncah, mengakhiri penantian panjang nan melelahkan sejak kapal ini tertahan akibat bara geopolitik Timur Tengah.

​Keberhasilan diplomasi dan operasional ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antarlembaga, kalkulasi matang, dan disiplin keselamatan mutlak mampu menembus ketidakpastian global yang paling ekstrem sekalipun.

​Meski satu misi sukses, perjuangan belum usai. Armada raksasa PIS lainnya, VLCC Pertamina Pride, saat ini masih mematangkan posisi di Teluk Arab. Kapal tersebut sedang memasuki fase persiapan akhir sebelum menantang jalur yang sama. PIS menegaskan akan terus mengevaluasi setiap jengkal dinamika keamanan sebelum melepas Pertamina Pride ke medan laga.

​“Kami memohon dukungan dan doa dari seluruh masyarakat Indonesia agar VLCC Pertamina Pride dapat segera menyusul dan melintasi Selat Hormuz dengan selamat,” tutup Vega.