Malam Sakral Bulan Suro, Kereta Kencana Pemalang Diarak untuk Ritual Jamasan Pusaka

Suyono
2 min
IMG 20260624 WA0112
A-AA+A++

PEMALANG,NUSANTARATODAY.ID – Gemerincing suara tapal kuda memecah keheningan malam di jantung Kota Pemalang. Di bawah temaram cahaya malam dan iringan gending serta kidung Jawa yang syahdu, dua kereta kencana kebanggaan masyarakat Pemalang, Kyai Turonggo Jati dan Kyai Seto Mraman, perlahan keluar dari kawasan Pringgitan.

Momen sakral tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian tradisi tahunan Jamasan Pusaka, sebuah warisan budaya yang terus dijaga dan dinanti masyarakat setiap Bulan Suro.

Prosesi boyong kereta kencana menuju Rumah Notonegoro bukan sekadar perpindahan benda pusaka. Setiap langkah para abdi dalem dan tokoh budaya yang mengawal perjalanan kereta seolah membawa masyarakat kembali menelusuri jejak kejayaan masa lampau di tanah Jawa.

Dengan penuh penghormatan, kereta kencana yang selama ini tersimpan megah di Pringgitan diarak melintasi jalan-jalan Kota Pemalang. Warga yang menyaksikan tampak larut dalam suasana khidmat, menyambut perjalanan pusaka yang sarat makna sejarah dan spiritual.

Baca Juga :  Aksi Humanis Kapolrestabes Palembang, Redam Ketegangan Demo dengan Bagikan Pempek Gratis

Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, menuturkan boyong kereta dan benda-benda pusaka merupakan bagian dari prosesi penjamasan atau penyucian kembali warisan leluhur.
“Boyong kereta ini adalah simbol perpindahan dan penyucian. Kita memindahkan pusaka dari tempat penyimpanan untuk dibersihkan dan dirawat kembali,”tuturnya.

Setibanya di Rumah Notonegoro, prosesi memasuki tahap inti yakni penjamasan pusaka. Berbagai peninggalan bersejarah seperti keris, tombak, pedang, hingga benda pusaka lainnya satu per satu dimandikan menggunakan air kembang setaman dan ramuan khusus.

Tradisi ini tidak hanya bertujuan merawat fisik pusaka agar tetap lestari, tetapi juga mengandung nilai filosofis yang mendalam. Air bekas jamasan bahkan sering dinantikan masyarakat karena dipercaya membawa berkah dan kebaikan.

Pelaksanaan jamasan pada Bulan Suro menjadi wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Pemalang dalam menjaga warisan sejarah dan budaya di tengah derasnya arus modernisasi. Ritual tersebut juga dimaknai sebagai momentum introspeksi diri, membersihkan hati dan jiwa dari berbagai hal negatif, sebagaimana pusaka dibersihkan dari karat dan kotoran yang menempel.

Baca Juga :  Babak Penentu Izin BTS Kelapa Tujuh: Berkas Geser ke Cipta Karya, Siapa Tanggung Jawab Jalan Rusak

Di tengah perkembangan zaman yang serba modern, tradisi boyong kereta dan jamasan pusaka di Rumah Notonegoro menjadi bukti bahwa akar budaya masyarakat Pemalang masih tumbuh kuat. Lebih dari sekadar merawat benda bersejarah, tradisi ini merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur, menjaga identitas daerah, serta merajut doa agar Pemalang senantiasa dilimpahi kedamaian, kemakmuran, dan keberkahan.

Tradisi yang sarat nilai sejarah, budaya, dan spiritual ini pun terus menjadi magnet bagi masyarakat dan wisatawan yang ingin menyaksikan secara langsung kekayaan warisan budaya Kabupaten Pemalang.