Ketika Solidaritas Menjadi Alat: Fenomena Pengkhianatan Moral dalam Relasi Sosial Modern

IMG 20260124 234832

Oleh: Holib Rahman

Saat terjepit, namaku yang kau panggil.

Bacaan Lainnya

Saat senang, namaku yang kau lupakan.

NusantaraToday.id – Kalimat itu bukan sekadar ratapan personal ia adalah potret telanjang dari relasi sosial yang sakit. Sebuah ironi yang tumbuh subur di ruang publik kita: manusia memanfaatkan kehadiran orang lain hanya ketika membutuhkan, lalu menghapusnya dari ingatan saat posisi telah aman. Inilah tragedi moral yang kerap kita sebut secara halus sebagai “dinamika sosial”, padahal hakikatnya adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan itu sendiri. Ahad(25/02026) 

Dalam perspektif sosiologis, relasi seperti ini mencerminkan instrumentalisasi sosial ketika manusia diperlakukan bukan sebagai subjek bermartabat, melainkan sebagai alat sementara untuk mencapai tujuan. Teman tidak lagi diposisikan sebagai mitra perjuangan, melainkan sebagai “jembatan darurat” yang dilupakan begitu menyeberang.

Lebih menyedihkan lagi, praktik ini sering dibungkus dengan retorika persahabatan, loyalitas, dan solidaritas. Namun ketika roda nasib berputar, yang tersisa hanyalah keheningan dan jarak. Mereka yang dulu dipanggil dengan penuh harap, kini hanya menjadi bayangan masa lalu tak disebut, tak diingat, bahkan tak diakui.

Fenomena ini menyingkap krisis etika yang lebih dalam: hilangnya ingatan moral. Manusia modern semakin piawai membangun pencitraan, tetapi semakin miskin kesadaran akan jasa, pengorbanan, dan kebersamaan. Padahal, dalam nilai-nilai luhur, melupakan orang yang pernah menolong bukan sekadar kekeliruan sosial melainkan pengkhianatan terhadap nurani.

Peribahasa lama mengingatkan: kacang lupa kulitnya.

Metafora sederhana, namun menyayat.

Ia menampar kesombongan yang tumbuh setelah keberhasilan, seolah pencapaian itu berdiri sendiri tanpa tangan-tangan yang pernah menopang dari bawah.

Relasi yang sehat tidak diukur dari seberapa besar manfaat yang bisa diambil, melainkan dari seberapa dalam penghargaan yang dijaga. Persahabatan bukan kontrak musiman. Solidaritas bukan alat taktis. Dan manusia bukan tangga yang boleh ditinggalkan setelah sampai di puncak.

Maka, jadilah manusia yang memiliki ingatan—bukan sekadar ingatan emosional, tetapi ingatan etis. Ingatan yang mengikat kita pada kesadaran bahwa setiap langkah maju pernah disertai jejak orang lain. Sebab, keberhasilan tanpa rasa terima kasih hanyalah bentuk lain dari kegagalan moral.

Dan di dunia yang gemar memanfaatkan, mungkin sikap paling radikal hari ini adalah satu hal sederhana:

setia pada mereka yang pernah setia, bahkan ketika kita sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *