BNPB Semai 2,4 Ton Dry Ice di Sumsel untuk Atasi Kabut Asak Karhutla

Berry Pratama
2 min
IMG 20261017 WA0264
A-AA+A++

​BNPB melakukan Operasi Modifikasi Cuaca dengan menyemai 2,4 ton dry ice untuk membantu menangani kabut asap karhutla di Sumatera Selatan (Ig/@bnpb_indonesia).

 

Sumsel, Nusantaratoday.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyemai total 2,4 ton dry ice selama dua hari, 15–16 Oktober 2026, guna menanggulangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan.

​Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) ini dipusatkan dari Bandara Raden Inten II, Bandar Lampung, Lampung. Penyemaian dry ice dilakukan lantaran pekatnya asap karhutla telah menekan jarak pandang, yang berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan serta mengancam kesehatan masyarakat.

​Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa OMC tersebut dilaksanakan dalam tiga sorti penerbangan dengan total durasi terbang mencapai 7 jam 3 menit.

Baca Juga :  Progres Pembangunan Jalan Kendalsari-Gondang Sudah Mulai Dibetoninasi Setelah Proses Lntai Kerja.

​”BNPB telah menyemai total 2,4 ton dry ice selama dua hari pelaksanaan operasi,” ujar Berton, Sabtu (17/10/2026).

​Pada sorti pertama yang berlangsung dari pagi hingga siang hari, pesawat BNPB menyebar 800 kilogram dry ice di kawasan sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.

​Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jarak pandang di bandara pada pukul 13.00 WIB awalnya berada di angka 1.000 meter. Setelah penyemaian, sekitar pukul 14.30 WIB, jarak pandang meningkat menjadi 1.500 hingga 2.000 meter.

​Memasuki sorti kedua, jarak pandang bergerak stabil ke angka 2.800 meter. Dua jam setelahnya, jarak pandang kembali melonjak hingga 3.000 meter dan bertahan sampai pukul 20.30 WIB.

Baca Juga :  Seminar Kewirausahaan Masalembu Penguatan Perempuan dan Akselerasi Ekonomi Kepulauan

​Berton menjelaskan, penyemaian dry ice secara teoritis dapat memengaruhi lapisan atmosfer yang mengalami inversi kondisi saat suhu udara di atas lebih hangat dibandingkan lapisan udara di bawahnya.

​”Langkah ini berpotensi merusak struktur inversi tersebut sehingga mendorong terjadinya pelemahan penumpukan udara tercemar,” dikatakanya.

​Peningkatan jarak pandang ini dinilai berhasil menciptakan kondisi yang lebih aman dan kondusif bagi lalu lintas penerbangan di wilayah Palembang yang sempat terdampak kabut asap karhutla.

​”Kondisi ini tentunya sangat mendukung kelancaran dan keselamatan aktivitas penerbangan setempat,” tutur Berton.***

IMG-20260904-WA0396