BANDAR LAMPUNG, NUSANTARATODAY.ID — Proyek irigasi gantung senilai Rp97,8 miliar milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung di Desa Bandar Anom, Kabupaten Mesuji, kini menuai sorotan tajam. Meski pembangunan telah rampung sejak beberapa tahun lalu, proyek yang digadang-gadang mampu memenuhi kebutuhan pengairan masyarakat tersebut hingga kini belum berfungsi optimal.
Ironisnya, infrastruktur yang belum pernah dimanfaatkan secara maksimal ini justru sudah mengalami kerusakan di sejumlah titik. Kondisi tersebut memicu keraguan publik terkait kualitas pengerjaan proyek bernilai jumbo tersebut.
Berdasarkan dokumentasi lapangan, terlihat air merembes keluar melalui celah beton saluran, alih-alih mengalir normal di dalam konstruksi. Beberapa bagian bangunan tampak retak, berlumut, serta ditumbuhi semak belukar, sementara besi penyangganya pun mulai berkarat.
Temuan di lapangan memperkuat dugaan adanya persoalan serius pada aspek konstruksi. Hasil pengukuran menggunakan sigmat digital menunjukkan ketebalan dinding saluran hanya sekitar 3,12 sentimeter, sedangkan bagian tutup saluran tercatat sebesar 70,7 milimeter.
Kondisi ini memicu dugaan kuat adanya ketidaksesuaian antara realisasi pekerjaan dengan spesifikasi yang tertuang dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB).
”Jika benar ketebalannya hanya sekitar 3 cm, sangat wajar kalau cepat retak dan bocor. Padahal ini proyek besar,” ujar salah seorang warga setempat yang mempertanyakan daya tahan bangunan bernilai hampir Rp100 miliar tersebut.
Upaya perbaikan yang sempat dilakukan oleh pihak BBWS Mesuji Sekampung dikabarkan tidak membuahkan hasil. Perbaikan pada titik kerusakan di area T15 Desa Bandar Anom disebut gagal menghentikan kebocoran, air tetap merembes dari celah beton dan struktur bangunan dinilai tetap rapuh.
Humas BBWS Mesuji Sekampung, Yanti, menjelaskan bahwa proyek tersebut dikerjakan oleh PT Indo Bangun Group dengan konsultan pengawas PT Innako Konsulindo dan PT Reka Patria Internusa. Terkait audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Yanti menyebut terdapat catatan akhir tahun 2022 sebesar Rp2 miliar untuk molding ferrocement yang kini disimpan sebagai aset di workshop BBWSMS.
”Tidak ada (temuan kerugian), karena asetnya sudah di workshop BBWSMS. Itu hanya catatan saja,” ujar Yanti melalui sambungan telepon, Selasa (26/5/2026).
Meski pihak BBWS menegaskan tidak ada temuan kerugian negara, penjelasan tersebut dinilai belum menjawab persoalan utama, mengapa bangunan sudah rusak sebelum digunakan dan mengapa perbaikan yang dilakukan selalu gagal Hingga saat ini, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Iwan, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi.
Di sisi lain, masyarakat Mesuji masih menunggu transparansi dan kepastian kapan proyek bernilai puluhan miliar yang kini tampak mangkrak tersebut dapat difungsikan.





