Palembang, Nusantaratoday.id — Sungai Musi bukan sekadar ikon Kota Palembang, melainkan urat nadi kehidupan sekaligus sumber bahan baku utama air bersih yang dikelola PDAM. Namun di balik peran krusial tersebut, kondisi Sungai Musi kini berada dalam taraf kritis akibat akumulasi sampah dan pendangkalan yang kian parah.
Berdasarkan data Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), kedalaman ideal Sungai Musi yang semula mencapai 40–50 meter kini menyusut drastis menjadi 35–40 meter di bagian tengah, dan hanya tersisa 4–7 meter di area pinggiran.
Penyusutan ini juga berdampak signifikan pada anak-anak sungai. Dari 714 anak sungai yang pernah melintasi Palembang, kini hanya tersisa 114 yang masih terdata. Kondisi ini kian terdesak oleh volume sampah warga yang mencapai 1.000–1.200 ton per hari, bahkan melonjak dua kali lipat saat hari raya Idulfitri dan Iduladha.
Merespons ancaman tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang berkolaborasi dengan Asosiasi Kreator Konten seluruh Indonesia (AKKSI) DPW Sumatera Selatan serta aktivis dan komunitas lingkungan, menggelar Aksi Bersih Sungai Musi Jilid 2 di kawasan Tepian Musi 9/10 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang. Sabtu (22/8/2026).
Ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat, komunitas, hingga sektor swasta bergotong royong membersihkan sampah di kawasan pesisir sungai.
Ketua AKKSI Sumsel sekaligus Pegiat Budaya, Mang Dayat, menyampaikan bahwa aksi ini dirancang sebagai gerakan berkelanjutan melalui peluncuran program “KIJAGA” (Kita Jaga). Program ini mengusung konsep adopsi sungai yang melibatkan sekolah, komunitas, hingga pelaku usaha.
”Pembersihan sungai tidak akan menyelesaikan masalah tanpa penanganan berkelanjutan. Melalui program KIJAGA, kami mendorong konsep adopsi sungai seperti anak angkat. Misalnya satu sekolah menjaga 200 meter aliran, satu komunitas menjaga satu anak sungai, atau pelaku usaha menjaga 1 kilometer sungai,” ujar Mang Dayat.
Selain adopsi sungai, program KIJAGA mencakup edukasi masyarakat serta pemasangan barrier atau waring perangkap sampah di mulut anak sungai sebelum mengalir ke Musi. Momen musim kemarau dimanfaatkan secara optimal untuk menjangkau titik-titik rawan sampah yang sulit diakses saat air pasang.
Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, yang hadir memimpin langsung peluncuran gerakan KIJAGA menegaskan bahwa persoalan sampah adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
”Bicara sampah ini adalah problem kita bersama, bukan tanggung jawab pemerintah kota saja. Penanganannya harus dilakukan secara menyeluruh dari hilir hingga hulu,” tegas Ratu Dewa.
Sebagai bagian dari solusi jangka panjang, Ratu Dewa membeberkan beberapa langkah strategis Pemerintah Kota Palembang. Salah satunya adalah proyek Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) bernilai strategis di Keramasan yang mampu menghasilkan daya 17,7 Megawatt, di mana proyek ini akan segera diresmikan oleh Presiden RI sebagai percontohan nasional.
Selain itu, Pemkot Palembang juga menggalakkan pembentukan bank sampah berbasis kelurahan dengan target satu bank sampah di setiap kelurahan. Langkah strategis ini dilengkapi dengan program digitalisasi sungai berbasis QR Code yang bekerja sama dengan aktivis lingkungan untuk memetakan 114 anak sungai, sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengakses data historis, riwayat, hingga dimensi setiap anak sungai hanya melalui pemindaian kode tersebut.
Kegiatan ini turut didukung oleh jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas PUPR, Camat Seberang Ulu I, tokoh masyarakat, serta mitra swasta dan organisasi kemasyarakatan.
Melalui sinergi antara pemerintah, kreator konten, komunitas lingkungan, Aktivis dan masyarakat luas, gerakan KIJAGA diharapkan mampu menumbuhkan budaya peduli lingkungan serta mengubah wajah Sungai Musi kembali menjadi sumber kehidupan yang bersih dan lestari.






