Potret Kemandirian Desa Glandang, Nabung Rp500 Tiap Malam Demi Lestarikan Tradisi Ruwat Bumi

Berry Pratama
2 min
IMG 20260624 182452
A-AA+A++

PEMALANG, NUSANTARATODAY.ID – Nuansa pergantian tahun baru Islam atau yang karib dikenal masyarakat Jawa sebagai bulan Suro selalu menyelimuti atmosfer dengan perpaduan magis dan religius yang kental. Suasana khidmat sekaligus semarak begitu terasa di Desa Glandang, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, saat ribuan warga tumpah ruah merayakan tradisi Ruwat Desa.

​Gelaran yang diinisiasi oleh Pemerintah Desa bersama tokoh adat dan pemuka agama ini bukan sekadar seremonial usang. Lebih dari itu, Ruwat Desa merupakan wujud nyata pelestarian warisan leluhur yang berharmoni indah dengan nilai-nilai syiar Islam.

​Kemeriahan telah memuncak sejak pagi hari. Ratusan warga dari berbagai generasi mulai dari anak-anak hingga lansia melebur dalam iring-iringan kirab budaya. Langkah kaki mereka melambangkan harapan baru dan pancaran semangat di awal tahun.

​Arak-arakan megah ini melibatkan perwakilan dari 12 RT di Desa Glandang. Masing-masing RT mengusung gunungan hasil bumi kreatif yang diarak keliling desa. Setelah prosesi ruwatan selesai, gunungan yang telah disucikan lewat doa-doa tersebut dibawa kembali oleh warga sebagai simbol berkah dan rasa syukur atas kesuburan tanah mereka.

Baca Juga :  Bazaar Barang Rampasan Negara Kejari Lampung Utara Lelang iPhone hingga Mobil Mulai Rp250 Ribu

​Sebagai pemungkas hari, puncak acara akan dimeriahkan oleh pagelaran wayang golek semalam suntuk. Prosesi ritual ruwatan inti sendiri dipimpin langsung oleh dalang kondang asal Tegal.

​Penjabat (Pj) Kepala Desa Glandang, Zainal Imron, menjelaskan bahwa Ruwat Desa kali ini mengusung tema Mandiri dan Berdikari sebagai cerminan nyata dari karakter masyarakat setempat.

​“Kegiatan ini akrab disebut ruwat bumi, baritan, atau sedekah bumi. Dengan tema Mandiri dan Berdikari, pesan moralnya nanti akan disampaikan secara luwes melalui gaya sang dalang. Intinya adalah mengusung semangat kemandirian masyarakat,” tutur Zainal, Rabu (24/6).

Baca Juga :  Panglima Nero Kunang Guncang Lapas Way Kanan: Usut Tuntas Dugaan Narkoba, Copot Pejabat Jika Terbukti Lalai

​Menariknya, kemandirian ini bukan sekadar slogan. Zainal membeberkan bahwa anggaran besar di balik acara ini murni bersumber dari swadaya masyarakat dan gotong royong.

​Setiap rumah tangga dengan sukarela menyisihkan Rp500 setiap malam yang dikumpulkan selama satu tahun penuh, hingga terkumpul sekitar Rp60–65 juta. Kekurangan dana ditopang oleh sumbangan para donatur yang mencapai sekitar Rp80 juta.

​Keterlibatan aktif dan kemandirian finansial warga Desa Glandang ini dinilai menjadi potret teladan yang positif bagi desa-desa di sekitarnya. Pihak panitia berharap, tradisi adiluhung ini akan terus lestari dari generasi ke generasi, menjaga agar api rasa syukur, persatuan, dan nilai-nilai luhur tetap hidup subur di dada masyarakat Glandang.