Wujudkan Asta Cita Presiden, Lampung Bangun Pusat Bioetanol di Pesawaran

Redaksi
4 min
IMG 20260914 WA0041
A-AA+A++

Pesawaran, Nusantaratoday.id – Lampung mulai membangun ekosistem bioetanol sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional dan mewujudkan Asta Cita Presiden. Langkah itu ditandai dengan peluncuran Bioethanol Development Center di Masgar, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Senin (14/9/2026).

Peluncuran tersebut dirangkai dengan tiga agenda sekaligus, yakni penandatanganan nota kesepahaman (MoU) para pihak, penanaman simbolis tanaman sorgum, serta peletakan awal pembangunan fasilitas pengembangan bioetanol di lahan sekitar 10 hektare dengan target pengembangan hingga 20 hektare.

Program ini merupakan tindak lanjut Joint Declaration in Establishing Bioethanol Ecosystem Development in Lampung Province yang melibatkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Pemerintah Provinsi Lampung, PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI), serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Todotua Pasaribu mengatakan pengembangan bioetanol tidak hanya berkaitan dengan energi, tetapi juga menyentuh hilirisasi, transisi energi, bauran energi, hingga penguatan ekonomi Nasional.

“Kalau kita bicara ketahanan energi, hilirisasi, transisi energi dan ketahanan ekonomi, bioetanol ini menjadi bagian penting,” kata Todotua.

Menurutnya, Indonesia memiliki sumber bahan baku bioetanol yang melimpah. Salah satunya sorgum yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bahan baku energi terbarukan.

Ia mengatakan pengembangan sorgum di Indonesia juga didukung hasil riset dan pengalaman pengembangan tanaman tersebut di Jepang.

“Berbagai riset dan otomotif menyebutkan di Jepang sorgum ini unggul sekali. Saya bahkan langsung ke lokasi meninjaunya. Ini sangat ekonomis,” ujarnya.

Baca Juga :  Ketua DPRD Lampura, Perusahaan Main Mata dengan Oknum Pejabat Akan Ditindak Tegas

Todotua menambahkan, kebutuhan energi berbasis bensin di Indonesia sangat besar sehingga pengembangan bioetanol menjadi kebutuhan strategis.

“Penggunaan bensin di negara kita sekitar 36 juta kiloliter per tahun. Jadi sudah sangat diperlukan pengembangan etanol,” katanya.

Ekosistem yang dibangun di Lampung itu nantinya mempertemukan sektor pertanian, industri, teknologi, investasi, dan masyarakat dalam satu rantai ekonomi berbasis energi terbarukan.

Lampung dinilai memiliki potensi besar karena ditopang lahan pertanian yang luas. Strategi pengembangannya mencakup sinergi dengan PTPN, pengembangan sorgum terintegrasi generasi pertama (1G) dan generasi kedua (2G), pembangunan pilot bioethanol development center, hingga hilirisasi singkong dan jagung serta konversi pabrik.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyambut pembangunan pusat pengembangan bioetanol tersebut. Menurutnya, Lampung memiliki modal besar untuk menjadi salah satu daerah pengembangan energi berbasis pertanian.

“Beberapa waktu lalu kita mendengar ini, tapi hari ini kita siapkan fasilitas pendukungnya. Saya apresiasi apa yang dikerjakan kementerian, Pertamina, serta Toyota,” ujar Mirza.

Ia menyebut Lampung memiliki sekitar 3 juta hektare kawasan pertanian yang dapat menjadi kekuatan dalam pengembangan bahan baku bioetanol.

“Pertanyaannya, apakah masyarakat siap menanam sorgum ini? Maka inilah dukungan yang akan kita berikan,” katanya.

Sorgum sendiri memiliki siklus panen sekitar 90 hari. Tanaman tersebut disebut memiliki potensi menghasilkan bioetanol generasi pertama sekitar 2,5 kiloliter per hektare, ditambah potensi bioetanol generasi kedua sekitar 4,7 kiloliter per hektare.

Baca Juga :  Gedor Kantor Bupati, Koalisi PGK Tolak Utang Daerah Rp100 Miliar Dan Desak Usut Dugaan Korupsi di Lampung Tengah

Area awal pengembangan budidaya berada di tengah masyarakat di wilayah Tegineneng, Pesawaran.

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan mengatakan pembangunan pusat pengembangan bioetanol menjadi langkah konkret menuju kemandirian energi Nasional.

“Presiden sudah mengingatkan, bagi bangsa besar, pengadaan energi bukan sekadar pilihan kebijakan, tapi syarat utama untuk bertahan, bertumbuh, dan berdaulat,” kata Iwan.

Ia mendorong seluruh pihak menjadikan Asta Cita sebagai aksi nyata melalui pemanfaatan sumber daya dalam negeri.
“Bangun Asta Cita jadi aksi, sumber daya jadi energi untuk memperkuat kedaulatan bangsa,” tegasnya.

Sementara itu, fasilitas pengembangan yang dibangun ditargetkan memiliki kapasitas produksi sekitar 60 kiloliter per tahun. Bahan bakunya akan dikembangkan dari sejumlah komoditas, antara lain jagung, sorgum, singkong, serta limbah dan biomassa sawit seperti pelepah dan tandan kosong.

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto mengatakan pengembangan bioetanol menjadi bagian penting dalam menghadapi fase baru teknologi otomotif dan energi rendah karbon.

“Upaya pemerintah melalui bioetanol merupakan langkah strategis, sejalan dengan komitmen Toyota soal rendah karbon,” ujarnya.

Menurut Nandi, mobilitas berkelanjutan membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, industri, petani hingga pemangku kepentingan lainnya.

“Mobilitas yang berkelanjutan diperlukan. Ini membutuhkan kolaborasi pemerintah, industri, petani, dan seluruh stakeholder,” pungkasnya.

IMG-20260904-WA0396