Lawan Kanker Serviks, Mahasiswa UNISA Yogyakarta Inisiasi Gerakan Women Support Women di Muaro Jambi

Berry Pratama
3 min
IMG 20260616 091423
A-AA+A++

 

MUARO JAMBI, NUSANTARATODAY.ID – Sebuah gerakan solidaritas sunyi namun bertenaga tengah tumbuh di Desa Parit, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi. Di balik riuhnya aktivitas keseharian, para perempuan di desa ini sedang menggalang kekuatan untuk melawan salah satu momok terbesar kesehatan rahim, kanker serviks.

Melalui inisiatif bertajuk “Women Support Women”, dua mahasiswa Program Studi Magister Kebidanan Universitas Aisyiyah Yogyakarta (UNISA), Erni Anggraeni dan Angel Seftia Ningsih, hadir mengobarkan kesadaran yang selama ini sering terabaikan.

​Kegiatan yang bergulir sepanjang Juni 2026 ini bukan sekadar penyuluhan medis konvensional yang kaku. Lebih dari itu, ia adalah sebuah gerakan moral berbasis pemberdayaan.

Menggunakan pendekatan dukungan sebaya (peer support), program ini memosisikan perempuan desa bukan sekadar sebagai objek penyuluhan, melainkan sebagai subjek yang saling menguatkan, berbagi cerita, dan menjadi benteng pertahanan pertama bagi kesehatan reproduksi di komunitas mereka.

​Fokus utama dari gerakan ini adalah mengikis stigma dan ketakutan seputar pemeriksaan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA). Hingga hari ini, kanker serviks tetap bertengger sebagai salah satu pembunuh senyap utama perempuan.

Baca Juga :  GERMAS RI Meriahkan Penutupan KKN Universitas Wiraraja 2025 di Desa Laok Jang-Jang

Ironisnya, angka kematian yang tinggi kerap kali bukan karena ketiadaan fasilitas, melainkan akibat deteksi dini yang terhambat oleh rasa takut, tabu, dan minimnya akses informasi yang meluruskan mitos.

​”Melalui pemeriksaan IVA, kelainan pada serviks sebenarnya bisa dideteksi sejak dini sebelum terlambat, sehingga penanganan medis bisa dilakukan secepat mungkin,” ungkap Erni Anggraeni tim pelaksana program dari UNISA Yogyakarta.

Ia menambahkan, di sinilah urgensi dari gerakan Women Support Women. Ketika seorang perempuan merangkul perempuan lain, rasa takut itu akan luruh, berganti menjadi keberanian demi kesehatan bersama.

Langkah nyata yang diinisiasi oleh mahasiswa UNISA Yogyakarta ini sukses memicu gelombang dukungan dari berbagai lini penting. Kehadiran program ini disambut hangat oleh Muhammad Aman, selaku Kepala Desa Parit, yang menegaskan bahwa kesehatan perempuan merupakan investasi jangka panjang bagi kesejahteraan dan masa depan desa yang dipimpinnya.

​Dukungan teknis di lapangan juga dikawal langsung oleh Sumarlis, Ketua Ranting Ikatan Bidan Indonesia (IBI), yang bertindak sebagai pembimbing lahan untuk memastikan seluruh proses pemeriksaan berjalan secara aman, higienis, dan terukur secara klinis.

Baca Juga :  Petaka Gas LPG di Sungai Pinang: Tiga Warung Hangus, Satu Nyawa Melayang

Selain itu, program ini juga diperkuat dari sisi keilmuan oleh Dr. Dhesi Ari Astuti, M.Kes, selaku dosen pembimbing Magister Kebidanan UNISA Yogyakarta, yang memastikan bahwa inisiatif tersebut memiliki landasan akademis yang kokoh sekaligus implementasi klinis yang tepat sasaran.

​Sinergi yang berkelanjutan antara dunia akademis, birokrasi pemerintahan desa, organisasi profesi, dan masyarakat lokal ini diharapkan tidak menguap begitu saja sebagai agenda musiman. Keberhasilan gerakan ini diukur dari seberapa dalam akar kesadaran yang tertanam di benak warga setelah program formal selesai.

​Kini, dengan api semangat “Women Support Women” yang telah dinyalakan, perempuan di Desa Parit melangkah ke babak baru. Mereka tidak lagi pasif, melainkan lebih berdaya dan mandiri dalam mengambil keputusan atas tubuh dan kesehatan mereka sendiri.

Lebih jauh lagi, mereka kini bertransformasi menjadi agen perubahan siap mengetuk pintu hati sesama perempuan untuk bersama-sama memutus mata rantai ancaman kanker serviks. (Rk)