Jerambah Kayu Rusak Bertahun-tahun, Warga Lorong Sungijo Kertapati Menanti Kepastian Pemerintah

Berry Pratama
3 min
IMG 20260726 094802
A-AA+A++

Dina Maryana, Ketua RT 26, saat memberikan keterangan di kediamannya.

 

PALEMBANG, NUSANTARATODAY.ID — Warga Lorong Sungijo, RT 26 RW 06, Kelurahan Keramasan, Kecamatan Kertapati, Palembang, harus terus mengelus dada. Bertahun-tahun diterpa cuaca ekstrim mulai dari terik matahari, guyuran hujan, hingga luapan banjir mereka terpaksa bertahan melintasi jerambah kayu yang terbilang jauh dari kata layak. Akses vital satu-satunya bagi warga setempat ini tak kunjung tersentuh perbaikan.

​Berdasarkan pantauan di lapangan pada Minggu 19 juli 2026, kerusakan jerambah kayu tersebut telah berlangsung lama tanpa penanganan konkret. Selain melumpuhkan mobilitas harian, kondisi titian yang lapuk ini juga mengancam keselamatan warga, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, hingga ibu hamil.

​Banyaknya keluhan yang masuk mendorong Ketua RT 26 RW 06, Dina Maryana, angkat bicara. Ia mengaku kerap dihujani pertanyaan oleh warganya terkait kepastian perbaikan jalan yang tak kunjung terealisasi, padahal berbagai usulan resmi telah berkali-kali dilayangkan ke pemerintah.

​”Masalah ini sudah berlangsung sangat lama. Saya sudah enam tahun menjabat sebagai Ketua RT, bahkan sejak era kepemimpinan ayah saya sebelumnya, jalan ini belum pernah tersentuh perbaikan. Warga terus-menerus mengeluhkan hal ini,” ungkap Dina. Minggu (26/07).

Baca Juga :  Puskesmas Arjasa Sumenep Gelar Pemeriksaan Kesehatan Jamaah Haji 2025

​Dina menceritakan, usulan perbaikan sebenarnya telah diajukan sejak 2020, tepat sebelum pandemi COVID-19 melanda. Kala itu, pengerjaan berdalih tertunda akibat refocusing anggaran pandemi. Namun, hingga situasi kembali normal, janji perbaikan tersebut seolah menguap begitu saja.

IMG 20260726 094812

​”Setiap kali diminta proposal, kami selalu siap menyetorkan. Namun sampai saat ini, tanggapan yang kami terima hanya sebatas wacana di atas kertas tanpa ada aksi nyata di lapangan,” tegasnya.

​Kerusakan infrastruktur ini tak sekadar menyulitkan, tetapi juga berujung nestapa. Dina membeberkan insiden tragis saat seorang warga yang tengah hamil terjatuh ketika hendak melintasi jerambah kayu menuju rumah sakit untuk memeriksakan kandungan. Kejadian tersebut diduga kuat menjadi pemicu sang ibu mengalami keguguran, kendati secara medis belum ada rilis resmi yang memverifikasi insiden tersebut secara langsung.

​Di lingkungan RT 26 RW 06, tercatat ada 135 Kepala Keluarga (KK), dengan sekitar 50 KK bergantung penuh pada jerambah kayu ini sebagai satu-satunya urat nadi transportasi.

Baca Juga :  Tepis Isu Friksi, Kapolda dan Kajati Sumsel Tegaskan Kepolisian-Kejaksaan Satu Jiwa Membangun Negeri

​Penderitaan warga tak berhenti di situ. Akses jalan yang minim penerangan membuat kawasan ini gulita saat malam tiba. Warga terpaksa mengandalkan lampu senter pribadi untuk meminimalisasi risiko terperosok. Tak hanya itu, rapuhnya jerambah kayu membuat sepeda motor sama sekali tidak bisa melintas. Bertahun-tahun warga terpaksa memarkirkan kendaraan mereka di luar pemukiman.

​Kondisi tersebut membuat kendaraan warga lapuk terpapar cuaca ekstrem, sekaligus membayangi mereka dengan rasa cemas akan ancaman aksi pencurian motor (curanmor).

​Dina menyuarakan asa besar masyarakat agar Pemerintah Kota Palembang segera melirik dan merealisasikan pembangunan jerambah beton yang layak.

​”Kami hanya ingin diperlakukan adil, sama seperti warga di wilayah lain. Jangan karena pemukiman kami terpencil, kebutuhan dasar kami diabaikan. Jika memang perbaikan ini sudah masuk dalam perencanaan, mohon segera direalisasikan. Jalan yang memadai akan membangkitkan mobilitas dan perekonomian warga kami,” pungkasnya.

​Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Kota Palembang maupun instansi terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai tindak lanjut usulan pembangunan di kawasan tersebut.