NUSANTARATODAY.ID – Publik tengah hangat memperbincangkan wacana baru dari Badan Gizi Nasional (BGN). Lembaga ini sedang mematangkan skema distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa dengan mengoptimalkan peran kantin sekolah.
Langkah taktis ini diungkapkan langsung oleh Kepala BGN yang baru, Nanik S. Deyang. Menurutnya, pendekatan tersebut diambil sebagai upaya efisiensi anggaran, tanpa sedikit pun mengurangi kualitas layanan maupun target sasaran program.
Wacana ini langsung menyedot perhatian khalayak, terlebih setelah terjadinya transisi kepemimpinan di pucuk BGN yang sebelumnya dinakhodai oleh Dadan Hindayana.
”Jadi ada beberapa alternatif, intinya untuk mengurangi beban anggaran APBN,” ujar Nanik dalam jumpa pers di Kantor BGN, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Terkait strategi anyar ini, Nanik menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin terus-menerus menghamburkan anggaran untuk membangun infrastruktur dapur baru.
”Kita intinya tidak harus membangun dapur baru, itu prinsipnya. Kita bisa menggunakan dapur-dapur yang sudah ada, misalnya kantin sekolah.” Tegas Nanik.
Jika menengok ke belakang, gagasan melibatkan kantin sekolah sebenarnya bukan hal baru. Usulan serupa sempat mencuat kuat di tengah gejolak kasus keracunan makanan pada program MBG sepanjang tahun 2025 lalu.
Secara terpisah, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah, sempat menilai bahwa pelibatan kantin sekolah dalam program pemenuhan gizi siswa sudah sukses diterapkan di berbagai negara, termasuk China dan Jepang.
Berbeda dengan konsep Dapur Pusat MBG yang skalanya masif, Said mengusulkan agar kantin sekolah difokuskan untuk mengelola distribusi dalam skala yang lebih terkendali.
”Bebannya terlalu berat kalau (satu dapur melayani) 3.000 siswa, disesuaikan saja jadi 1.000. Atau, pemerintah mengambil posisi yang ekstrem, langsung mendirikan dapur MBG di dalam sekolah-sekolah.” Dikatakan Said kepada awak media di Kompleks Parlemen, Jakarta, September 2025 lalu.
Langkah ini dinilai ampuh untuk menjaga kualitas dan higienitas makanan, sekaligus mengikis kekhawatiran publik terkait menu MBG yang tidak segar akibat jarak distribusi yang jauh.
”Cakupannya hanya di sekolah itu saja, itu akan lebih luar biasa,” ujarnya.
Dukungan senada juga datang dari Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian. Ia menilai optimalisasi kantin sekolah tidak akan serta-merta menghapus peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah dibentuk.
”Justru saya merasa sepertinya harus seperti itu (menggunakan kantin sebagai basis salur MBG),” tutur Hetifah di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, September 2025.
Hetifah menambahkan, skema ini sangat realistis diterapkan pada sekolah-sekolah yang berada di wilayah terpencil atau jauh dari jangkauan SPPG, sehingga memotong birokrasi distribusi yang rumit.
Kendati demikian, politisi senior ini mengingatkan agar sekolah tetap harus lolos kurasi dan memenuhi standardisasi ketat sebelum mengelola program ini.
”Ada beberapa sekolah yang sudah punya praktik baik (best practice). Nah, kita lihat modelnya seperti apa untuk dijadikan standar persyaratan,” jelas Hetifah.
Wacana mengaktifkan kantin sekolah ini dinilai mengadopsi konsep school meal yang sukses diterapkan di Negeri Sakura.
Dalam sebuah kesempatan, Chief Representative JICA Indonesia, Takeda Sachiko, menjelaskan bahwa di Jepang, program makan siang di sekolah dikelola secara komprehensif dan terintegrasi ke dalam sistem pendidikan nasional.
”Program school meal di Jepang diposisikan sebagai bagian integral dari pendidikan, mencakup pengelolaan dan operasional yang menyeluruh. Itu bergerak mulai dari penyusunan menu, manajemen kebersihan, proses distribusi, hingga pengembangan kapasitas SDM.” urai Takeda dalam Seminar ‘Shokuiku’ Februari 2026 lalu
Meski demikian, Takeda mengingatkan bahwa sistem di Jepang tidak bisa dicomot dan diterapkan mentah-mentah di Indonesia.
”Program school meal bukanlah model seragam yang bisa langsung dipindahkan. Melainkan sebuah inisiatif yang perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan konteks budaya serta kondisi geografis masing-masing negara,” pungkas Takeda.***





