Kutukan Gocap GOTO Kembali Memanas, Investor: Saatnya Wariskan Saham ke Anak

Berry Pratama
2 min
IMG 20260627 022030
A-AA+A++

NUSANTARATODAY.ID – Bayang-bayang “kutukan gocap” kembali menghantui PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Di jagat maya, riuh rendah curhatan investor ritel kembali mencuat setelah pergerakan saham emiten teknologi ini tertahan di level psikologis Rp50 per lembar.

​Pantauan di platform Threads memperlihatkan bagaimana para investor menyikapi stagnasi ini dengan humor getir. Salah satu unggahan yang mencuri perhatian datang dari akun @adistyyy.tp.

​”Apakah GOTO bakal keluar dari kutukan GOCAP? Ini hanyalah masalah waktu. Saatnya bikin wasiat untuk anak bungsu kalau ayahmu punya saham GOTO,” tulisnya jenaka, dikutip via Kilat.com (mitra Promedia Group), Jumat (26/6/2026).

​Unggahan yang telah disaksikan lebih dari 5.700 kali itu memantik diskusi hangat. Di kolom komentar, akun @t4ndraa ikut membagikan potret buram investasi digital ini. Ia mengunggah tangkapan layar seorang investor yang “nyangkut” di harga rata-rata (avg) Rp338 per saham.

Baca Juga :  Kasubsi I Intelijen Kejari Pemalang Hadiri Kegiatan Bimas Islam MANTU

“Ada yang DM korban GOTO. Kalau saya sih sudah pensiun dari saham lihat begini,” akunya.

​Realitas di papan perdagangan memang mencerminkan keluhan tersebut. Hingga Jumat (26/6/2026) pagi, saham GOTO bergeming di level Rp50 tanpa ada pergerakan berarti sejak bel pembukaan berbunyi.

​Jika ditarik garis sepanjang tahun ini (year-to-date/YTD), GOTO telah melorot 27,54%, kehilangan nilai Rp19 per lembar. Sempat dibuka di kisaran Rp69 pada awal Januari, performa GOTO perlahan mengempis ke area Rp55–Rp60 sepanjang Februari-Maret. Meski sempat ada riak rebound tipis di bulan April, tekanan jual kembali menyeretnya ke level Rp50 sejak awal Mei sebuah titik nadir dalam kurun waktu 52 minggu terakhir.

​Ironisnya, lesunya harga saham ini terjadi di tengah guyuran sentimen positif dari internal perusahaan. Melalui RUPST dan RUPSLB pada 18 Juni 2026 lalu, manajemen GOTO sebenarnya telah mengantongi restu untuk menggelar aksi korporasi besar pembelian kembali (buyback) saham senilai maksimal Rp3,5 triliun untuk periode 2026–2027.

Baca Juga :  Kepanikan bank mereda di Wall Street. Selanjutnya: Kepanikan Fed

​Langkah taktis ini awalnya diproyeksikan mampu menjaga fleksibilitas modal dan mengembalikan kepercayaan pasar. Namun, pasar ritel tampaknya terlanjur skeptis. Bagi mereka, angka Rp50 kini bukan sekadar nominal, melainkan simbol fluktuasi panjang sejak GOTO pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2022 silam.

​Kini, publik hanya bisa menunggu Apakah peluru buyback triliunan rupiah ini mampu menjadi jimat pengusir “kutukan gocap”, ataukah GOTO akan tetap menjadi cerita warisan bagi generasi fiktif para investornya.