Tulang Bawang Barat, Nusantaratoday.id – Atmosfer politik menjelang Pemilihan Kepala Tiyuh Daya Sakti, Kecamatan Tumijajar, mulai menghangat. Di antara deretan nama yang muncul, sosok Yessi Usman kini menjadi buah bibir yang memikat perhatian warga. Ia bukan politisi panggung, bukan pula deretan elite birokrasi. Yessi adalah putra daerah asli yang tumbuh, besar, dan mendedikasikan hidupnya di tanah Daya Sakti.
Selama ini, masyarakat mengenalnya sebagai seorang fotografer. Sosok bersahaja yang selalu hadir di baris depan dalam setiap momentum komunal warga. Lewat bidikan lensanya, Yessi telah mengabadikan ribuan potret kehidupan Daya Sakti mulai dari sakralnya acara adat, kehangatan hajatan warga, aksi sosial, hingga rekam jejak sejarah pasang-surut tiyuh ini.
Namun, di balik kamera itu pula, sebuah panggilan pengabdian yang lebih besar lahir. Kedekatan emosional yang intim dengan warga memantapkan langkahnya untuk maju sebagai Bakal Calon Kepala Tiyuh Daya Sakti periode mendatang.
Lahir di Karta pada 25 Mei 1987 dari pasangan Sarwatu Usman dan Dewi Mahzen, Yessi adalah produk asli dari kultur gotong royong Daya Sakti. Nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian antar-sesama telah membentuk karakternya sejak kecil. Bagi Yessi, Daya Sakti bukanlah sekadar wilayah administratif, melainkan sebuah rumah besar yang marwahnya harus dijaga dan potensinya harus diperjuangkan.
Tahun-tahunnya yang dihabiskan dengan berinteraksi langsung membuat Yessi menjelma menjadi sosok yang lebih banyak mendengar ketimbang berbicara.
”Yang penting kerja nyata, tidak perlu neko-neko (banyak tingkah),” ujar Yessi.
Kesederhanaan tanpa sekat inilah yang membuat figur Yessi begitu organik dan mendapat tempat di hati masyarakat.
Profesi fotografer membawa Yessi menjelajah hingga ke sudut-sudut terdalam pemukiman warga. Ia tidak hanya melihat indahnya momen, tetapi juga menyaksikan langsung potret riil tantangan yang dihadapi masyarakat, sekaligus besarnya potensi Daya Sakti yang belum tergali optimal.
Setiap jepretan kamera baginya adalah sebuah dialog tanpa kata. Di sana ada keluh kesah, harapan, dan impian warga yang terekam jelas. Berbekal modal sosial itulah, Yessi memahami betul bahwa membangun desa tidak boleh melulu soal beton dan infrastruktur fisik, melainkan harus menyentuh reformasi pelayanan, penguatan ekonomi grass-root, jaminan keamanan, dan kesejahteraan yang merata.
Langkah pengabdian Yessi mendapat restu penuh dari sang istri, Anggaraini Desta, S.H., M.H., seorang ASN yang saat ini mendedikasikan diri di Inspektorat Kabupaten Tulang Bawang. Pernikahan mereka dianugerahi tiga buah hati yang menjadi pelengkap kebahagiaan: Nabila Aura Yesta Saputri, Nesya Oktavia Yesta, dan M. Gavin Mahendra Yesta.
Bagi Yessi, masa depan anak-anak Daya Sakti adalah refleksi dari masa depan anak-anaknya sendiri. Itulah motivasi terbesarnya.
”Saya ingin Tiyuh Daya Sakti menjadi rumah yang paling aman dan nyaman untuk tumbuh kembang anak-anak kita. Tempat di mana akses pendidikan itu mudah, lingkungan terjaga, dan para orang tua bisa bekerja serta berwirausaha dengan tenang,” tegasnya.





