Hari Pertama TPA SMAN Lampung Berujung Riuh: Server Lumpuh, Disdik Janjikan Tes Ulang

Berry Pratama
3 min
IMG 20260609 152531
A-AA+A++

BANDAR LAMPUNG, NUSANTARATODAY.ID – Hari pertama pelaksanaan Tes Potensi Akademik (TPA) dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA Negeri Provinsi Lampung tahun 2026 berujung riuh. Alih-alih berjalan mulus, sistem ujian berbasis daring justru lumpuh akibat berbagai kendala teknis, mulai dari gagal login, aplikasi yang membeku (crash), hingga pemutusan koneksi sepihak di tengah jalannya ujian.

​Kekacauan digital ini sontak memicu kepanikan massal di kalangan siswa dan orang tua. Mereka cemas hambatan teknis di luar kendali ini akan menghanguskan peluang emas untuk menembus SMA negeri favorit.

​Merespons gelombang protes tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdik) Provinsi Lampung bergerak cepat dengan menggaransi adanya ujian susulan bagi seluruh peserta yang terdampak.

​Kepala Disdik Lampung, Thomas Amirico, membenarkan adanya malafungsi sistem sejak sesi pertama yang digelar pada Senin 8 juni 2026. Saat ini, pihaknya tengah melakukan audit dan pendataan cepat demi memastikan hak-hak calon siswa tidak terabaikan.

​”Kami sudah mengecek langsung di lapangan. Pada sesi pertama, sejumlah siswa mengalami keterlambatan login akibat sistem error. Data sedang kami rekap secara menyeluruh agar mereka segera mendapatkan jadwal tes ulang,” ujar Thomas tegas.

Baca Juga :  Peluang Nyata Kemajuan Pulau Kangean, Pengelolaan Migas Dengan Tepat

​Berdasarkan data sementara yang dihimpun Disdik, sebaran peserta terdampak meluas di beberapa sekolah unggulan. Di SMAN 2 Bandar Lampung, tercatat 20 siswa gagal menuntaskan ujian, sementara di SMAN 14 Bandar Lampung ditemukan 4 kasus serupa. Gangguan sistem dengan pola yang sama juga dilaporkan menginfeksi pelaksanaan ujian di SMAN 9, SMAN 5 Bandar Lampung, hingga menjalar ke sejumlah wilayah kabupaten.

​Thomas memastikan bahwa para siswa yang hak ujiannya terenggut oleh kendala teknis ini akan langsung dialihkan ke slot ujian susulan.

​”Seluruh peserta yang terdata mengalami kendala akan kami jadwalkan ulang esok hari. Tim kami bergerak cepat mengumumkan mekanismenya kepada orang tua dan siswa, agar mereka bisa mengikuti tes susulan pada sesi pagi esok,” dikatakanya.

​Langkah mitigasi ini diambil sebagai komitmen mutlak untuk menjaga muruah keadilan dalam proses seleksi.

​”Ini demi memberikan rasa keadilan yang setara bagi seluruh calon siswa,” pungkas Thomas.

​Sejak Senin pagi, jagat maya dan grup percakapan orang tua murid langsung dibanjiri kritik pedas. Isunya seragam, ketidaksiapan infrastruktur server panitia. Banyak peserta mengeluhkan layar yang mendadak putih (blank) atau mendadak terlempar keluar (logout) saat sedang konsentrasi menjawab soal.

Baca Juga :  Rp97,8 Miliar Mengalir Bocor: Irigasi Gantung Mesuji Rusak Sebelum Dipakai

​Tak pelak, kesiapan cetak biru (blueprint) digitalisasi SPMB Lampung langsung dipertanyakan. Selain rapuhnya server pusat, para orang tua juga mengeluhkan beban ganda akibat keharusan menyediakan perangkat pribadi yang mumpuni serta kuota internet mandiri.

​Publik mendesak adanya evaluasi total. Mereka menuntut pemerintah tidak hanya ambisius mengejar digitalisasi, tetapi juga wajib menjamin keandalan sistem dan aksesibilitas yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

​Hingga berita ini diturunkan, Disdik Lampung masih terus menyisir laporan dari berbagai daerah untuk memvalidasi angka pasti peserta yang dirugikan. Formulasi ujian susulan kini tengah digodok agar insiden serupa tidak terulang kembali di hari berikutnya.

​Tragedi teknis ini menjadi catatan merah sekaligus alarm keras bagi penyelenggara SPMB 2026. Di tengah gelombang migrasi sistem ke ruang siber, keandalan teknologi bukan lagi sekadar opsi, melainkan pilar utama penentu legitimasi dan kepercayaan publik terhadap dunia pendidikan.

​Melalui keputusan tes ulang ini, pemerintah daerah kini berkejaran dengan waktu untuk membuktikan bahwa asas transparansi, akuntabilitas, dan keadilan dalam SPMB 2026 bukan sekadar jargon di atas kertas.