IMG-20261021-WA0526(1)

Anak Makin Rentan di Era Digital, Parenting Islami Jadi Benteng Karakter Siswa SMPN 1 Petarukan

Ragil
2 min
A-AA+A++

PEMALANG,NUSANTARAYODAY.ID- Kemajuan teknologi digital membawa tantangan baru dalam mendidik anak. Penggunaan gawai tanpa pengawasan, paparan konten negatif, perundungan di dunia maya hingga menurunnya kedisiplinan menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian serius dari orang tua dan lingkungan sekolah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian SMP Negeri 1 Petarukan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Sekolah ini mengajak orang tua siswa memperkuat pola asuh melalui kegiatan Parenting Islami yang digelar Sabtu (31/10) dengan,mengusung tema Mendidik Anak di Era Digitalisasi yang Sesuai dengan Syariat Islam dan Kedisiplinan Murid,

kegiatan tersebut menghadirkan penceramah sekaligus pendidik, Hajjah Dzikriyah.
Dalam kegiatan itu, wali murid diajak memahami bahwa mendidik anak di tengah perkembangan teknologi tidak cukup hanya dengan memberikan fasilitas digital. Pengawasan, komunikasi, keteladanan dan penanaman nilai agama juga menjadi bagian penting dalam membentuk perilaku anak.
Sebab, lingkungan digital saat ini tidak hanya menawarkan kemudahan memperoleh informasi dan pengetahuan, tetapi juga menyimpan berbagai risiko apabila anak belum memiliki kemampuan menyaring informasi dan mengendalikan diri.

Baca Juga :  Pemcam Pemalang Dorong Sinergi Pembangunan Desa Pegongsoran melalui Musrenbangdes

Persoalan tersebut tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Orang tua memiliki peran penting dalam mengawasi aktivitas anak di rumah, termasuk penggunaan telepon pintar, pergaulan, kebiasaan belajar hingga pelaksanaan kewajiban agama.
Melalui Parenting Islami, keluarga diharapkan mampu membangun pola komunikasi yang terbuka dengan anak. Pendekatan disiplin juga perlu dilakukan secara bijak, disertai keteladanan dan pemahaman terhadap perkembangan psikologis remaja.

Kepala SMPN 1 Petarukan, Purwaningsih, S.Pd., M.Pd., mengatakan pendidikan karakter membutuhkan keterlibatan bersama antara guru dan orang tua.
Menurutnya, nilai-nilai yang diajarkan di sekolah perlu mendapatkan penguatan di lingkungan keluarga agar anak memperoleh arahan dan pembiasaan yang konsisten.

” Apa yang diajarkan guru di sekolah perlu diperkuat oleh orang tua di rumah agar anak memperoleh arahan yang konsisten,” ujar Purwaningsih.

Baca Juga :  Diduga Gunakan Dokumen Palsu, Kasus Penelantaran PMI di Singapura Didorong Masuk Ranah Pidana

Ia menegaskan, pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan tanggung jawab bersama. Terlebih di era digital, anak membutuhkan pendampingan agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa meninggalkan nilai agama, etika dan kedisiplinan.

“Kami ingin membangun kesamaan visi dalam mendidik anak agar mereka mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, memiliki kedisiplinan, serta tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan akhlak mulia,” tutupnya.

Persoalan pendidikan karakter memang tidak selesai melalui satu kegiatan. Dibutuhkan pembiasaan dan pengawasan berkelanjutan, baik di sekolah maupun di rumah.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, pendampingan orang tua menjadi salah satu faktor penting agar anak tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang cakap teknologi, tetapi juga memiliki tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan dan akhlak yang baik.
Sebab, kecanggihan teknologi perlu diimbangi dengan kematangan karakter. (Ragil)

IMG-20260904-WA0396