Bullying Jadi Perhatian, SMPN 1 Petarukan Tancap Gas! PPA Dinsos Beri Edukasi Sekolah Ramah Anak

Ragil
3 min
IMG 20261008 WA0094
A-AA+A++

PEMALANG, NUSANTARATODAY.ID – Kasus dugaan perundungan yang mencuat di Kabupaten Pemalang menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan. Merespons hal tersebut, SMP Negeri 1 Petarukan bergerak cepat mengambil langkah preventif dengan menggelar sosialisasi Sekolah Anti-Bullying bersama Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinsos KBPP Pemalang, Kamis (8/10).

​Kegiatan yang diikuti ratusan siswa ini bertujuan membangun kesadaran bahwa bullying bukanlah sekadar kenakalan remaja atau bahan candaan. Perundungan merupakan perilaku bermasalah yang dapat berdampak serius terhadap rasa aman, kepercayaan diri, hingga perkembangan jiwa anak.

​Kepala SMPN 1 Petarukan, Purwaningsih, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa lingkungan sekolah harus terbebas dari intimidasi.

​”Sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Tidak boleh ada siswa yang merasa takut, tertekan, atau dikucilkan karena perlakuan teman-temannya. Kami terus membangun budaya saling menghargai dan mengingatkan siswa bahwa bullying bukanlah candaan,” tegas Purwaningsih saat ditemui di lokasi acara, Kamis (8/10).

​Ia menambahkan, menciptakan sekolah bebas perundungan tidak cukup hanya dengan membuat aturan tertulis. Dibutuhkan kepedulian dan keterlibatan aktif dari seluruh elemen, mulai dari guru, siswa, orang tua, hingga instansi terkait.

Baca Juga :  Rutan Jakarta Pusat Perluas Pembinaan Humanis , Pendidikan Teologi Jadi Bekal Bekal Perubahan Warga Binaan

​”Kegiatan pembinaan seperti ini rutin kami gelar setiap hari Jumat dengan topik yang berganti-ganti. Khusus hari ini, kami bekerja sama dengan PPA Dinsos untuk mengedukasi siswa terkait perundungan. Banyak anak yang belum paham bentuk-bentuk bullying. Melalui kegiatan ini, kami berharap pengetahuan dan pemahaman mereka semakin meningkat,” ujar Purwaningsih.

​Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi berbagai pihak dalam menekan angka kekerasan pada anak. “Kami tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan keterlibatan guru, siswa, orang tua, serta berbagai elemen masyarakat untuk membangun lingkungan pendidikan yang sehat dan ramah anak,” pungkasnya.

​Dalam sosialisasi tersebut, para siswa diajak mengenali berbagai bentuk perundungan yang kerap terjadi, mulai dari kekerasan fisik, ejekan verbal yang merendahkan, pengucilan, hingga cyberbullying melalui media sosial.

​Pesan utama yang ditekankan kepada para siswa sangat tegas: jangan menjadi pelaku, jangan ikut-ikutan, dan jangan berdiam diri saat melihat teman menjadi korban. Siswa juga didorong untuk berani melapor jika mengalami atau menyaksikan tindakan perundungan.

Baca Juga :  Gandeng UMKABA, Lapas Kendal Bekali Warga Binaan Strategi Manajemen Stres

​Sementara itu, Dede Nadiyanah dari Bidang PPA Dinsos Pemalang menegaskan bahwa upaya pencegahan harus dimulai sejak dini. Menurutnya, anak-anak membutuhkan ruang aman untuk menyampaikan masalah tanpa rasa takut disalahkan atau mendapat stigma negatif.

​”Setiap bentuk kekerasan tidak bisa dimaklumi. Edukasi seperti ini sangat penting agar siswa mampu mengenali tanda-tanda perundungan dan berani bersuara,” ungkap Dede.

​Pihak SMPN 1 Petarukan memastikan kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremoni belaka. Edukasi anti-perundungan akan menjadi komitmen berkelanjutan dalam membentuk karakter dan budaya sekolah yang positif. Penguatan rasa empati, komunikasi interaktif antar-siswa, pengawasan lingkungan sekolah, serta keberanian melapor akan terus ditingkatkan.

​Langkah ini menjadi bukti keseriusan SMPN 1 Petarukan dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, nyaman, dan ramah anak. Bagaimanapun, sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai akademik, melainkan ruang bagi anak untuk tumbuh, bersosialisasi, dan mengembangkan potensi diri tanpa rasa takut. (Ragil)

IMG-20260904-WA0396