Wartawan Jangan Terjebak Kotak: Saat Solidaritas Pers Terkikis Kepentingan

Redaksi
3 min
IMG 20261003 144739
A-AA+A++

Bandar Lampung, Nusantaratoday.id — Dunia jurnalistik idealnya menjadi ruang yang terbuka bagi siapa pun untuk bertukar gagasan, berkarya, dan membangun kolaborasi. Namun di tengah derasnya arus informasi dan semakin banyaknya komunitas pers, muncul fenomena ketika wartawan justru terkotak-kotak berdasarkan organisasi, kelompok, jaringan, hingga kepentingan tertentu.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengikis solidaritas sesama insan pers. Semangat kebersamaan yang semestinya menjadi kekuatan dunia jurnalistik perlahan dapat bergeser menjadi pola “kami dan mereka”, ketika kedekatan dengan kelompok tertentu dianggap lebih penting dibanding kualitas karya dan profesionalitas seorang wartawan.

Hal itu disoroti Pinnur Selalau, Pengurus DPD PWRI Lampung, dalam refleksinya mengenai kehidupan komunitas wartawan di era digital. Sabtu (3/10/2026)

Menurut Pinnur, komunitas wartawan pada dasarnya memiliki peran penting dalam membangun ekosistem jurnalistik. Komunitas dapat menjadi ruang berdiskusi, berbagi pengalaman, meningkatkan kapasitas, hingga membuka peluang kerja sama dan ekonomi bagi para anggotanya.

Namun, persoalan muncul ketika komunitas berubah menjadi ruang yang eksklusif dan hanya memberikan perhatian kepada orang-orang yang berada dalam lingkarannya.

“Pernahkah kita melihat seorang jurnalis di luar komunitas tertentu diabaikan hanya karena bukan bagian dari mereka?” demikian salah satu pertanyaan yang disampaikan Pinnur dalam refleksinya.

Ia menilai kondisi semacam itu patut menjadi bahan introspeksi bersama. Sebab, dunia jurnalistik semestinya tidak diukur dari seberapa kuat seseorang berada dalam jaringan tertentu, melainkan dari kualitas karya, integritas, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Baca Juga :  Usut Dugaan Pungli SK Kepsek Miliaran Rupiah, LSM LASKAR NKRI Siap Serahkan Bukti Kunci ke Kejari Lambar

Ketika Kepentingan Ekonomi Ikut Bermain

Pinnur juga menyoroti faktor ekonomi yang dinilai dapat memperkuat sekat antarkelompok wartawan.

Menurutnya, tidak ada yang keliru ketika wartawan maupun perusahaan media berusaha memperoleh penghasilan. Pers merupakan profesi yang juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang.

Namun, orientasi ekonomi yang terlalu dominan dinilai dapat memunculkan persaingan tidak sehat. Dalam kondisi tertentu, wartawan dari media kecil atau yang belum memiliki jaringan luas bisa saja kesulitan mendapatkan ruang yang sama dengan mereka yang sudah memiliki nama dan koneksi.

Akibatnya, muncul kesenjangan di antara sesama pekerja pers.

“Seorang jurnalis berbakat dari media kecil mungkin kesulitan menembus komunitas media besar yang sudah mapan. Bukan karena karyanya buruk, tetapi karena tidak memiliki koneksi atau branding yang dianggap menjual,” tulis Pinnur.

Menurut dia, kondisi tersebut semestinya tidak dibiarkan menjadi budaya dalam kehidupan pers.

Sebab, jika ukuran keberterimaan seorang wartawan lebih banyak ditentukan oleh kelompok, jaringan, dan kepentingan ekonomi, maka ruang jurnalistik berisiko kehilangan semangat egaliter yang selama ini menjadi salah satu fondasinya.

Pinnur menawarkan sejumlah gagasan untuk mengurangi sekat tersebut.

Pertama, komunitas wartawan dinilai perlu membangun ruang yang lebih terbuka dengan memperbanyak kolaborasi lintas organisasi, media, dan latar belakang.

Baca Juga :  Sambut HUT ke-81 RI, SDI Serukan Lima Tuntutan Rakyat dan Dukung Gerakan #PatiMelawan

Kedua, mentalitas “kita versus mereka” perlu dikurangi. Perbedaan organisasi maupun tempat bekerja seharusnya tidak otomatis menjadikan wartawan sebagai rival.

Ketiga, media diharapkan kembali dipandang sebagai ruang bersama untuk menyampaikan informasi, membangun literasi publik, sekaligus memperkuat hubungan antarsesama insan pers.

Jika sekat-sekat tersebut terus menguat, kata Pinnur, dunia pers berisiko melahirkan generasi wartawan yang lebih sibuk membangun pengaruh di dalam komunitas daripada memperkuat solidaritas dan profesionalitas jurnalistik.

Padahal, keberagaman merupakan bagian penting dari dunia pers. Setiap wartawan memiliki sudut pandang, pengalaman, dan karakter tulisan yang berbeda. Perbedaan tersebut semestinya menjadi kekayaan, bukan alasan untuk saling menjauh.

“Pers bukan milik satu kelompok saja, melainkan milik semua orang yang berani kritis, berpikir, dan menulis,” ujarnya dalam refleksi tersebut.

Karena itu, ia mengajak para wartawan untuk kembali membangun komunikasi dan solidaritas tanpa melihat sekat organisasi maupun kelompok.

Saling menyapa, bertukar gagasan, dan membuka peluang kolaborasi dinilai menjadi langkah sederhana yang dapat memperkuat kembali hubungan antar sesama pekerja pers.

Pada akhirnya, pers tidak hanya berbicara tentang berita dan kepentingan ekonomi. Di dalamnya terdapat nilai kemanusiaan, keberanian menyampaikan fakta, empati, serta tanggung jawab kepada publik.

Pers tanpa solidaritas, ibarat kendaraan tanpa arah masih bisa berjalan, tetapi belum tentu mencapai tujuan.

IMG-20260904-WA0396