Gunung Anak Krakatau Erupsi, Status Level III Siaga: Lava Fountain hingga Dentuman Terdengar di Pasauran

Redaksi
3 min
IMG 20260905 233725
A-AA+A++

Banten, Nusantaratoday.id – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali meningkat. Gunung api yang berada di antara Provinsi Banten dan Lampung tersebut mengalami erupsi sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB.

Berdasarkan informasi terkini yang bersumber dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, aktivitas erupsi masih berlangsung hingga Sabtu pagi, 5 September 2026.

Dalam kejadian tersebut, teramati lava fountain atau air mancur lava dari kawah aktif. Selain itu, suara dentuman dan gemuruh dilaporkan terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Aktivitas kegempaan juga tercatat cukup signifikan. Gempa letusan/erupsi tercatat memiliki amplitudo maksimum 70 milimeter dengan durasi yang tercatat mencapai 21.600 detik.

Kondisi tersebut menjadi perhatian mengingat Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Status Level III (Siaga).

Dilarang Mendekat Radius 3 Kilometer

PVMBG mengingatkan masyarakat maupun wisatawan untuk tidak mendekati kawasan kawah aktif.

Baca Juga :  Pantai Mandiri Krui Bakal Punya Champion Resort, Dorong Pariwisata dan Ekonomi Lokal

Masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Larangan tersebut merupakan bagian dari upaya mitigasi untuk menghindari risiko yang dapat timbul akibat aktivitas erupsi.

Potensi bahaya seperti lontaran material vulkanik, lava, abu vulkanik maupun perubahan aktivitas gunung api menjadi alasan masyarakat harus mematuhi rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan.

Erupsi Tidak Otomatis Picu Tsunami

Meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau juga kembali memunculkan kekhawatiran masyarakat pesisir Selat Sunda terhadap potensi tsunami.

Namun, erupsi gunung api tidak secara otomatis berarti akan terjadi tsunami.

Tsunami dapat terjadi apabila terdapat mekanisme pemicu tertentu. Salah satunya adalah runtuhan atau longsoran material tubuh gunung api ke laut yang dapat menggeser massa air dalam jumlah besar.

Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah pesisir Selat Sunda diminta tetap tenang, namun tidak mengabaikan kewaspadaan. Informasi mengenai potensi tsunami maupun kondisi kegempaan hendaknya hanya merujuk pada informasi resmi dari BMKG dan instansi berwenang.

Baca Juga :  Bagai Negeri Dongeng, Kala Temu Aceh Tengah Jadi Destinasi Selebrasi Favorit Gen Z

Masyarakat Diminta Waspada Abu Vulkanik

Masyarakat di sekitar wilayah yang berpotensi terdampak juga diminta mewaspadai kemungkinan sebaran abu vulkanik.

Penggunaan masker dianjurkan apabila terjadi hujan abu atau kualitas udara terganggu akibat material vulkanik. Masyarakat juga diminta memastikan jalur evakuasi serta titik kumpul di lingkungan masing-masing diketahui dan dapat diakses dengan aman.

Yang tidak kalah penting, masyarakat diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, terutama informasi mengenai tsunami maupun kondisi erupsi yang dapat menimbulkan kepanikan.

Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Masyarakat diminta mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya melalui kanal resmi pemerintah, khususnya PVMBG/Badan Geologi dan BMKG.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian. Dengan status Level III (Siaga), masyarakat diminta tidak lengah dan tetap mengikuti setiap pembaruan resmi terkait perkembangan aktivitas vulkanik gunung api tersebut.

IMG-20260904-WA0396