PEMALANG, NUSANTARATODAY.ID – Desa Penggarit, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, menyimpan harta karun botani yang kini menjadi primadona, Mangga Istana. Meski secara genetik merupakan varietas Arumanis, mangga ini memiliki kelas tersendiri berkat kolaborasi apik antara pengelola dan petani setempat dalam mengembangkan konsep wisata petik langsung.
Disebut sebagai Mangga Istana karena kualitasnya yang telah lama menjadi favorit di lingkungan Istana Negara. Namun, daya tarik utamanya bukan hanya soal prestise, melainkan pengalaman unik saat menikmatinya. Jika biasanya mangga harus dikupas dan diiris, Mangga Istana menawarkan cara yang lebih praktis dan seru: cukup diputar.
”Tekstur dan warnanya benar-benar berbeda. Daging buahnya berwarna kuning kemerahan dan sangat lembut. Karena hampir tidak berserat, kita tidak perlu khawatir sisa buah terselip di gigi,” ujar Selvi (30), salah satu pengunjung yang terpikat oleh sensasi buah ini, Senin (1/6).
Menikmati Mangga Istana dengan cara yang elegan dapat dilakukan dengan langkah sederhana yang dimulai dengan membelah bagian tengah buah secara melingkar tanpa memutus bijinya.
Setelah terbelah, peganglah kedua ujung mangga dengan mantap lalu putar ke arah yang berlawanan hingga daging buah terlepas sempurna dari bijinya. Terakhir, tarik kedua bagian tersebut hingga terpisah, sehingga daging buah yang segar dan lembut siap untuk langsung disantap dengan praktis menggunakan sendok.
Inovasi cara makan yang unik ini bukan sekadar tren sesaat. Pada Festival Mangga tahun 2016 silam, tradisi makan mangga putar ini berhasil mencatatkan sejarah di Rekor MURI. Kala itu, lebih dari 2.000 peserta berkumpul untuk menikmati tiga ton mangga secara serentak, mengukuhkan Desa Penggarit sebagai destinasi wajib bagi para pencinta buah di Jawa Tengah.





