Jangan Cuma Hitung Medali, Hargai Prosesnya

Redaksi
4 min
IMG 20260924 132512
A-AA+A++

Oleh: Bambang Nopriyadi, Pemerhati Pendidikan Lampung

Lampung Utara, Nusantaratoday.id – Sekolah kerap dipuji ketika siswa membawa pulang medali. Nama daerah ikut harum, prestasi dipajang, dan keberhasilan menjadi kebanggaan. Namun ada satu hal yang sering luput dihitung: berapa besar pengorbanan dan kerja keras di balik sebuah medali?

Sebab medali tidak lahir dalam sehari.

Ada guru yang menemukan potensi siswa, pembina yang melatih di luar jam sekolah, kepala sekolah yang memberi dukungan, orang tua yang menyediakan waktu dan biaya, serta siswa yang harus melewati proses panjang, termasuk kegagalan dan latihan berulang.

Medali bukan hanya milik siswa yang berdiri di podium. Medali adalah hasil kerja sebuah ekosistem pendidikan.

Jangan Nilai Pendidikan Hanya dari Piala

Selama ini keberhasilan pendidikan kerap diukur dari nilai, peringkat, jumlah piala, atau banyaknya siswa yang menjuarai kompetisi.

Semua itu penting. Tetapi tidak cukup untuk menggambarkan mutu pendidikan.

Seorang juara tidak muncul tiba-tiba ketika lomba diumumkan. Ada proses panjang untuk menemukan bakat, memetakan kemampuan, membina, mendampingi, mengikuti kompetisi, kemudian mengevaluasi hasilnya.

Karena itu, sekolah seharusnya tidak bekerja dengan pola reaktif: lomba diumumkan, siswa dicari; lomba semakin dekat, pembina baru bergerak.

Yang diperlukan adalah sistem yang berkelanjutan:

identifikasi talenta → pemetaan potensi → pembinaan → pendampingan → kompetisi → evaluasi.

Dengan pola tersebut, prestasi tidak lagi sekadar target tahunan. Prestasi menjadi bagian dari budaya sekolah.

Di Balik Piala Ada Guru yang Bekerja dalam Diam

Di balik foto siswa memegang piala, sering ada guru pembina yang tidak ikut berdiri di podium.

Guru itulah yang menyusun strategi, melatih, melakukan simulasi, mengevaluasi kesalahan, hingga memberi semangat ketika siswa gagal.

Karena itu, kerja pembinaan talenta perlu mendapat kepastian tugas, dukungan fasilitas, penghargaan secara kelembagaan, serta mekanisme pembiayaan yang jelas dan sesuai aturan.

Bukan berarti setiap aktivitas harus selalu diberi imbalan. Tetapi kerja profesional tetap harus dihargai dan ditempatkan secara proporsional dalam tata kelola sekolah.

Termasuk dalam penggunaan Dana BOSP.

Dana pendidikan bukan uang yang bisa digunakan sesuka hati. Namun sekolah juga tidak seharusnya berada dalam posisi takut mengambil keputusan ketika kegiatan pembinaan peserta didik memang dibutuhkan.

Prinsipnya sederhana: setiap penggunaan anggaran harus jelas peruntukannya, memiliki dasar kebijakan, direncanakan, dapat dipertanggungjawabkan, dan memberikan manfaat bagi peserta didik.

Sebab uang pendidikan adalah uang publik.

Jangan Hanya Bangun Program, Bangun Ekosistem

Kondisi setiap sekolah juga tidak sama.

Sekolah di perkotaan memiliki tantangan dan fasilitas yang berbeda dengan sekolah di wilayah terpencil. Karena itu, keadilan pendidikan tidak selalu berarti semua sekolah mendapat perlakuan yang persis sama.

Yang lebih penting adalah memastikan setiap sekolah memperoleh dukungan sesuai kebutuhannya agar memiliki kesempatan memberikan pendidikan bermutu.

Di tengah transformasi kurikulum, digitalisasi, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI), satu hal tidak boleh dilupakan: kurikulum tidak mengajar, guru yang mengajar.

Dokumen bisa berubah. Aplikasi bisa berganti. Teknologi bisa berkembang.

Tetapi perubahan baru benar-benar berarti ketika terjadi di ruang kelas.

Guru membutuhkan waktu untuk belajar, pelatihan yang relevan, komunitas belajar, fasilitas yang memadai, dan kepercayaan profesional.

Teknologi adalah alat. Sementara empati, keteladanan, dan hubungan manusiawi tetap menjadi bagian penting dari pendidikan.

Pendidikan Bukan Hanya untuk Anak yang Juara

Hal lain yang perlu kita ubah adalah cara memandang keberhasilan anak.

Tidak semua siswa akan menjadi juara Olimpiade Sains Nasional (OSN). Tidak semua anak akan membawa pulang piala. Dan itu bukan berarti mereka gagal.

Tugas pendidikan bukan mencetak semua anak menjadi juara dalam bidang yang sama.

Tugas pendidikan adalah membantu setiap anak menemukan kekuatannya.

Karena itu, orang tua pun perlu mengubah pertanyaan.

Bukan hanya bertanya, “Berapa nilainya?”

Tetapi juga:

“Apa kekuatannya?”

“Apa yang dia sukai?”

“Apa yang bisa kita kerjakan bersama?”

Pertanyaan-pertanyaan itu dapat membuka ruang bagi anak untuk berkembang sesuai potensi yang dimilikinya.

Jangan Cuma Hitung Medali

Pada akhirnya, pendidikan bermutu membutuhkan kerja bersama.

Kompetensi guru harus diperkuat. Kepemimpinan sekolah harus diperbaiki. Pembiayaan harus akuntabel. Fasilitas harus memadai. Dan kebijakan pendidikan harus konsisten serta berkelanjutan.

Sebab prestasi tidak lahir hanya dari perlombaan. Prestasi lahir dari proses.

Mutu tidak lahir dari slogan. Mutu lahir dari budaya.

Transformasi tidak lahir dari perubahan dokumen. Transformasi lahir dari perubahan praktik.

Dan pendidikan bermutu tidak lahir dari satu pihak saja. Ia lahir dari ekosistem yang bekerja bersama.

Karena itu, jangan hanya membangun sekolah yang menghasilkan juara.

Bangun sistem pendidikan yang memberi kesempatan kepada setiap anak untuk menemukan potensinya, memberi ruang kepada guru untuk berkembang, memberi dukungan kepada sekolah untuk bertransformasi, sekaligus memastikan setiap rupiah anggaran pendidikan digunakan secara bertanggung jawab untuk kepentingan peserta didik.

Sebab ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya berapa banyak piala yang memenuhi lemari sekolah.

Lebih jauh dari itu, ukurannya adalah berapa banyak kehidupan anak yang berhasil kita ubah menjadi lebih berpengetahuan, berkarakter, mandiri, dan memiliki masa depan.

Jangan hanya hitung medalinya. Hitung prosesnya. Hargai manusianya. Bangun ekosistemnya.

Karena pendidikan pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling banyak membawa pulang piala, melainkan tentang bagaimana setiap anak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan menemukan masa depannya.

IMG-20260904-WA0396