IMG-20261021-WA0526(1)

Kebuntuan Penanganan Sampah Pemalang Terancam Parah akibat Limbah SPPG

Setiawan
2 min
file 00000000a93c8207a5ec610531a389f6
A-AA+A++

PEMALANG , NUSANTARATODAY.ID — Krisis penanganan sampah di Kabupaten Pemalang kini berada di titik kritis. Di tengah ketidakpastian Pemkab Pemalang menentukan lokasi TPA baru, tingginya volume limbah operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dikhawatirkan menjadi ‘bom waktu’ yang memperparah kondisi lingkungan lokal.

Berdasarkan analisis pemerhati lingkungan, setiap dapur SPPG menghasilkan rata-rata 80 kilogram sampah organik dan non-organik per hari. Dengan beroperasinya sekitar 163 SPPG di Pemalang, terdapat potensi penambahan belasan ton limbah harian. Beban ini datang di tengah timbunan harian sampah rumah tangga dari 14 kecamatan yang sudah mencapai 150 hingga 200 ton per hari.

Baca Juga :  Sinergi Ulama dan Umara Terjalin di Ulujami, Camat dan Kapolsek Hadiri Dzikir Akbar

Perwakilan Aliansi Pemalang Lestari, Aditapa, menegaskan bahwa kapasitas penampungan di daerah sudah sangat memprihatinkan. Lahan penimbunan di Dusun Slarang, Desa Surajaya, dilaporkan telah melebihi kapasitas (overload), sementara fasilitas Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) belum optimal mengolah limbah berskala besar secara harian.

“Lahan di Slarang sudah overload. Lantas sampah mau ditimbun ke mana lagi? Mesin TPST yang ada hingga kini belum mampu mengelola ratusan ton sampah per hari,” ujar Aditapa, Sabtu (24/10/2026).

Aliansi Pemalang Lestari mendesak adanya sinergi nyata antara pemerintah daerah, pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan para pelaku usaha. Pihaknya mengingatkan agar pihak swasta atau pengelola usaha tidak hanya mengambil limbah bernilai ekonomis semata, tetapi juga bertanggung jawab secara komprehensif atas limbah yang dihasilkan.

Baca Juga :  Area Ring Satu Pemda Pemalang Jadi Tempat Favorit Para Pengemis

“Kita semua adalah penghasil sampah. Namun, pelaku usaha yang memproduksi limbah setiap hari harus ikut memikirkan solusi dan berkontribusi, jangan hanya mengambil keuntungan saja,” kata Aditapa menegaskan.

Isu penanganan sampah di Pemalang terus memanas sejak penutupan TPA Pesalakan akibat penolakan warga sekitar pasca-pencapaian kapasitas maksimal.

Aliansi Pemalang Lestari mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk duduk bersama demi mencegah dampak lingkungan dan sosial yang lebih luas.

IMG-20260904-WA0396