BATANG, Nusantaratoday.id — Organisasi kemasyarakatan Omahtani yang berpusat di Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, kembali menunjukkan komitmennya dalam memperjuangkan isu pertanian, hak-hak petani, serta persoalan agraria yang masih menjadi perhatian nasional.
Dalam momentum refleksi Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Omahtani menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan yang masih dihadapi masyarakat petani, mulai dari konflik pertanahan hingga belum optimalnya kesejahteraan para pelaku sektor pertanian.
Kegiatan peringatan kemerdekaan tersebut berlangsung pada Senin (17/8/2026) mulai pukul 08.30 WIB. Acara diawali dengan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan, sekaligus memanjatkan harapan agar bangsa Indonesia senantiasa diberikan keselamatan dan terhindar dari berbagai ancaman krisis maupun musibah.
Nuansa budaya turut hadir dalam kegiatan tersebut melalui pertunjukan Seni Tari Gambyong dan tari kreasi baru bertajuk Sang Surya Tenggelam. Ratusan warga secara sukarela bergotong royong menyiapkan berbagai makanan tradisional hasil bumi, seperti singkong, kacang tanah, dan ubi rebus, yang kemudian dibagikan secara gratis kepada masyarakat sekitar.
Pendiri sekaligus Penasihat Hukum Omahtani, Handoko Wibowo, S.H., dalam refleksi kemerdekaan menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi petani Indonesia setelah 81 tahun bangsa ini merdeka.
Menurutnya, berbagai persoalan agraria masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, sementara kesejahteraan petani dan penghargaan terhadap hasil pertanian masih belum sesuai dengan harapan.
“Negara Kesatuan Republik Indonesia telah 81 tahun merdeka, namun hingga saat ini masih banyak persoalan agraria yang belum terselesaikan. Konflik pertanahan terus menjadi permasalahan yang diwariskan dari waktu ke waktu. Di sisi lain, hasil pertanian dan kesejahteraan petani belum mendapatkan perhatian yang layak, padahal Indonesia dikenal sebagai negara agraris,” ujar Handoko.
Usai pelaksanaan doa bersama dan penyampaian refleksi kemerdekaan, ratusan warga yang hadir melanjutkan kegiatan sosial dengan membantu pembangunan masjid di Dukuh Cepoko, Desa Tumbreb, Kecamatan Bandar.
Dengan semangat kebersamaan, masyarakat bahu-membahu mengumpulkan material berupa tanah dan batu sebagai bentuk dukungan terhadap percepatan pembangunan tempat ibadah tersebut.
Melalui kegiatan refleksi kemerdekaan, aksi sosial, serta pelestarian budaya, Omahtani menegaskan perannya sebagai wadah perjuangan bagi kepentingan petani. Tidak hanya menyuarakan kritik terhadap kebijakan yang dinilai belum berpihak kepada masyarakat kecil, Omahtani juga terus menjaga nilai gotong royong di tengah kehidupan sosial masyarakat.










